Dear Provokasi,

Apa iya Provokasi sudah seprovokatif namanya? Biarkan pertanyaan tersebut menggantung dan tentukan sendiri dari perkembangan yang ada. Soalnya gerakan mahasiswa yang sudah-sudah, hanya “hangat-hangat tai ayam”.

Tulisan ini merupakan bentuk penepatan janji terhadap salah seorang sahabat yang menurut penuturannya sangat menyayangi Vokasi UI. Mohon maaf ya janjinya baru bisa ditepati saat ini dan sempat terpikirkan untuk diingkari.

Jadi Provokasi, kalau gue lihat dari akun Line@ Provokasi, masalah Vokasi UI banyak juga ya? Boleh gue bantu menambahkan masalah-masalahnya? Siapa tau gue bisa ikutan jadi Mahasiswa Sotoy.

  1. Lahirnya Vokasi UI

Sebelum diselenggarakan secara terpusat seperti sekarang ini, D-3 UI diselenggarakan di beberapa Fakultas di UI. Rencana sentralisasi D-3 UI baru muncul pada tahun 2008, ditetapkan melalui Keputusan Rektor UI Nomor: 492/SK/R/UI/2008 tentang Pembentukan Program Vokasi Universitas Indonesia. Keputusan rektor tersebut tentu memiliki acuan, yakni salah satunya Keputusan MWA UI No.004/MWA-UI/2008 tentang Norma Penyelenggaraan Program Pendidikan Vokasi di Universitas Indonesia. Tapi acuan tersebut tidak berbicara mengenai Program Vokasi UI. Ayat (4) ketetapan “Pertama” berbunyi:

“Setiap jenjang dan program Pendidikan Vokasi ditetapkan oleh Universitas atas usul penyelenggara yang dalam hal ini adalah fakultas atau lembaga pengelola program pendidikan vokasi di Universitas Indonesia yang ditetapkan kemudian”.

Pertanyaannya, “fakultas” yang dimaksudkan pada ayat (4) tersebut apakah berbicara tentang Program Vokasi UI yang akan dipusatkan dalam penyelenggaraan setaraf fakultas, atau fakultas yang masih menyelenggarakan Program Diploma sebelum dipusatkan?

Pada tahun 2008, Rektor UI ketika itu menetapkan arah pembangunan UI dalam sebuah dokumen rencana pembangunan berjudul Rencana Induk (Master Plan) Kampus Universitas Indonesia Depok 2008. Rektor UI ketika itu memiliki impian membangun tiga rumpun ilmu di UI, yakni: Rumpun Ilmu Kesehatan, Rumpun Ilmu Sains dan Terapan, Rumpun Ilmu Sosial dan Humaniora. Pembentukan rumpun tersebut kabarnya akan dapat mendongkrak nama UI ke jajaran World Class University. Bagaimana dengan Vokasi? Ini proyek ambisius, Rektor UI mengundang Politeknik Negeri Jakarta (PNJ) untuk bergabung kembali dengan UI untuk mendirikan UI College.[1] Ada dua tujuan utama yang bisa kita tebak-tebak –namanya juga mahasiswa sotoy-, pertama PNJ punya tanah yang cukup luas dan menjadi bagian dari Master Plan UI dan; kedua PNJ memiliki tenaga pengajar dan administrasi yang telah lebih dahulu memahami seluk-beluk Diploma.

Boleh kalau ada yang nggak setuju, tapi gue melihat kelahiran Vokasi UI ketika disentralisasi sangat prematur. Belum ada integrasi kurikulum baik untuk mata kuliah wajib umum maupun mata kuliah wajib khusus. Belum jelasnya kelanjutan kerjasama dengan PNJ.  Ditambah lagi sepertinya ada misscomm antara MWA dan Rektor UI. MWA UI selaku lembaga pengawas universitas merasa Rektor UI belum memberikan pemaparan dan laporan mengenai sentralisasi Program Vokasi UI.[2] Kalau pelaksana dan pengawasnya saja tidak berkomunikasi, bagaimana dengan stakeholders-nya? Kita mah apa, hanya menerima dampak kebijakan tanpa dilibatkan.

Pembangunan gedung Vokasi UI direncanakan dilaksanakan dalam dua tahap.[3] Menurut lelang pembangunan Gedung Vokasi UI Tahap I yang mulai dibangun pada 9 Agustus 2010, gedung UI College harusnya tuntas seluruhnya pada tahun 2013 dengan daya tampung 11.700 mahasiswa, 30 staf pengelola, 240 staf pengajar dan 110 karyawan. Kenyataannya Program Vokasi UI batal menjalin kerjasama merger dengan PNJ, rencana awal UI College berdiri di atas lahan 10 hektar, kini hanya memiliki lahan 4 hektar. Kenyataan lain, per Desember 2015, mahasiswa Vokasi UI angkatan 2013, 2014 dan 2015 via data yang diolah UI Bersatu sejumlah 3438 orang. Jauh dari proyeksi awal.

  1. Biaya Pendidikan Vokasi UI

Gue masih belum paham kenapa biaya pendidikan di Program Vokasi UI bisa sangat “istimewa” dibandingkan fakultas lainnya. Sebegitu istimewanya sehingga mahasiswa Program Vokasi UI dilarang memperoleh sistem berkeadilan sebagaimana yang diperoleh mahasiswa UI di fakultas lain.[4] Ada yang tau kenapa?

Seringkali jawaban jajaran Rektorat UI sih karena Vokasi UI bukan program reguler. Iya, pertanyaannya kenapa tidak diselengsgarakan sebagai program reguler?; atau dengan pembagian reguler-paralel sebagaimana fakultas lain diselenggarakan? Gue juga heran, kenapa Provokasi tidak mempertanyakan hal ini? Ya nggak masalah kalau seluruh mahasiswa Vokasi UI itu anak dari orang tua/penanggung biaya yang mampu. Lah ini setiap semester banyak yang nunggak karena mengira dengan berkuliah di Vokasi UI bisa cepat lulus dan dapat kerja sesuai studi yang ditempuh. Beruntung ada dana kolektif peduli sesama, tapi apa iya solusinya sudah menyasar akar permasalahan? Itu yang dibantu hanya yang terdata, gimana dengan yang tidak terdata?

Mari kita lihat Pasal 9 ayat (2) Permenristek Dikti No.22 Tahun 2015 tentang Biaya Kuliah Tunggal dan Uang Kuliah Tunggal pada Perguruan Tinggi Negeri di Lingkungan Kementerian Riset, Teknologi, dan Pendidikan Tinggi yang berbunyi:

“Jumlah mahasiswa baru Program Sarjana dan Program Diploma sebagaimana dimaksud pada ayat (1) paling banyak 20% (dua puluh persen) dari keseluruhan mahasiswa baru”

Silahkan cek Pasal 9 ayat (1) yang intinya berbicara tentang PTN diizinkan untuk memungut uang pangkal di luar UKT. Jadi apa maksudnya? Ya ini interpretasi ala mahasiswa sotoy, gue si pahamnya kalau begitu mestinya Vokasi UI yang tidak lain dan tidak bukan merupakan Program Diploma juga harusnya diterapkan UKT 80% di luar mahasiswa non reguler. Kenapa harus UKT? Karena kalau sudah UKT, mahasiswa Vokasi UI bisa mengikuti sistem berkeadilan yang terkenal itu, yaitu BOP-B. Barangkali BOP-B hanya mitos bagi mahasiswa Vokasi UI.

Dari penelusuran gue yang sotoy ini, mahasiswa baru 2016 nanti paralel di beberapa fakultas memang akan menurun kuantitasnya, begitupun dengan kuantitas mahasiswa Vokasi UI. Tapi ini masih belum menjawab “kenapa Vokasi UI tidak UKT?”.

Menurut data seluruh mahasiswa UI yang dikumpulkan oleh panitia Pemira IKM UI 2015 dan diolah oleh UI Bersatu, mahasiswa angkatan 2013, 2014 dan 2015 Vokasi UI per Desember 2015 menduduki prosentase 15% dari seluruh mahasiswa UI. Sedangkan program reguler di UI sendiri masih menduduki angka 54% yang artinya UI belum memenuhi amanat Pasal 9 ayat (1) dan (2) Permenristek Dikti 22/2015. Kenapa kok hanya menggunakan data angkatan 2013, 2014 dan 2015? Sederhana, karena aturan UKT baru hadir pasca UU No.12 Tahun 2012 tentang Pendidikan Tinggi dan aturan Permendikbud No. 55 Tahun 2013 muncul.

Data UI per Desember 2015

Menurut Pasal 64 UU No.12 Tahun 2012, UI sebagai Perguruan Tinggi Negeri Badan Hukum (PTN BH) memiliki otonomi untuk melakukan pengelolaan di bidang akademik dan non akademik. Beberapa PTN BH yang memiliki Program Diploma seperti Institut Pertanian Bogor (IPB), Universitas Gajah Mada (UGM) dan Institut Teknologi Bandung (ITB) meletakkan Program Diplomanya ke dalam kelompok UKT.[5] Kenapa Vokasi UI tidak UKT? Padahal kampus lain dengan otonomi yang sama, meletakkan Diplomanya ke dalam kelompok UKT?

Mungkin Provokasi ingin menanyakan hal ini juga. Kampus lain saja bisa, Yakali UI?

  1. Pembangunan Gedung Vokasi UI

Pembangunan gedung Vokasi UI seperti yang gue tuliskan di poin pertama, Tahap I dan Tahap II ditargetkan selesai pada tahun 2013. Kenyataannya, hingga tahun 2015, gedung yang dinikmati mahasiswa Vokasi UI itu masih pembangunan Tahap I. Artinya pembangunan Vokasi UI Tahap II jauh dari rencana awal.

UI College

Ya kalau lihat apa yang dipermasalahkan Provokasi, kok ya hanya tentang kantin? Kantin itu penting, tapi mahasiswa Vokasi UI kuliah sampai malam dan hari Sabtu juga, bukan karena kantinnya dibongkar. Tapi karena ruangannya tidak memadai dan alasan kesediaan dosennya. Gue nggak tahu mana yang lebih dominan, faktor ruangan kah atau faktor kesedian dosen kah, tapi yang jelas bukan karena kantin kan?

Lelang Pekerjaan Konstruksi Pembangunan Gedung Vokasi UI Tahap II sudah selesai dilaksanakan menggunakan anggaran tahun 2015 dengan nilai pagu paket Rp 41.726.210.749,00.[6] Pembangunan tersebut dianggarkan untuk pelaksanaan single year[7] yang hingga menjelang April 2016 ini belum berasa ya pembangunannya? Coba ditanyakan ke Rektor UI saat ini, Rencana Kerja Anggaran (RKA) 2016 sudah ditandatangani apa belum. Ibarat APBN, RKA itu penting untuk penggunaan anggaran unit terkecil di UI. Hingga April 2016 ini setau gue si RKA UI 2016 tersebut belum ditandatangani. Ya kita yang mahasiswa sotoy ini memang tidak punya akses ke RKA sih ya, hanya rakyat jelata. Itu ya kalau Mahasiswa Sotoy di Provokasi memang memandang pembangunan Vokasi UI tidak hanya tentang kantin ya.

  1. “Vokasi bukan Core Business UI”

Ini sih gue belum pernah dengar langsung, tapi gue dengar dari beberapa sumber yang berbeda, pernyataan tersebut datangnya dari Pak Muhammad Anis, Rektor kita. Jadi Vokasi UI ini dianggap apa? Jujur pernyataan tersebut sangat membekas dan membuat gue bertanya-tanya, “..bukan core business UI” kok tapi nggak disediakan mekanisme biaya pendidikan yang berkeadilan. Apa mungkin maksudnya bukan urusan yang diprioritaskan kali ya?

Pak Anis bukanlah orang baru di jajaran Rektorat. Beliau telah menjabat sebagai Wakil Rektor bidang Akademik dan Kemahasiswaan semenjak tahun 2007.[8] Ketika masa jabatan Rektor UI 2007-2012 habis, Pak Anis mencalonkan diri sebagai penggantinya. Karena kekosongan jabatan, 2012 hingga 2013 UI diisi oleh pelaksana tugas (plt) Dirjen Dikti Prof. Dr. Ir Djoko Santoso M.Sc. Barulah sejak 2013 karena proses Pemilihan Rektor (Pilrek) yang tertunda, Prof Anis diamanahi sebagai plt. Pada Pilrek 2014 Prof Anis menduduki jabatan rektor definitif setelah memperoleh suara mayoritas dari pemungutan suara yang dilakukan oleh unsur di dalam MWA UI.

Rektor kita yang saat ini menjabat jelas bukan orang baru, beliau telah dekat dengan dunia kemahasiswaan dan administrasi tata kelola UI semenjak masih menjabat di Fakultas Teknik UI. Gue ingin menyoroti kiprahnya ketika tahun 2007 beliau menjabat sebagai Wakil Rektor. Dimana pada tahun berikutnya, tahun 2008, SK Rektor tentang Pembentukan Program Vokasi UI keluar. Tidak lupa juga Master Plan UI pun keluar pada tahun 2008. UI College menggema dan mengundang PNJ untuk bergabung kembali seketika Program Vokasi UI ingin diluncurkan dan diselenggarakan secara terpusat. Kini ketika UI College batal diselenggarakan dan merger dengan PNJ juga batal dilaksanakan, mengapa pernyataan “Vokasi bukan core business UI” muncul? Wakil Rektor UI bidang akademik dan kemahasiswaan yang dijabat oleh Prof Anis pada tahun 2007 melalui Keputusan Rektor UI No: 690/SK/R/UI/2007 tentang Perbaikan Struktur Organisasi Inti Universitas Indonesia, membawahi banyak direktorat, diantaranya: Pendidikan, Kemahasiswaan dan Pengembangan Akademik. Selain itu beliau juga membawahi Rumah Sakit Pendidikan, Perpustakaan, dan Pelayanan dan Pengembangan Sumber Daya Pembelajaran. Unsur Pelaksana Akademik seperti Dekan Fakultas, Ketua Program Pascasarjana dan Ketua Program Vokasional berkaitan dengan koordinasi pimpinan yang pastinya sangat melibatkan wakil rektor.

Dugaan ala gue yang sotoy ini, apa mungkin rencana pendirian Vokasi UI sebagai penghasil lulusan yang menguasai kemampuan dalam bidang kerja tertentu sehingga dapat langsung diserap sebagai tenaga kerja di industri/swasta, lembaga pemerintah atau berwiraswasta secara mandiri.[9] ini sudah berubah? Mungkin beliau lupa atau ada jawaban yang belum sebenarnya? Siapa tau Provokasi ingin mengingatkan dan menanyakan lagi.

Gue rasa cukup segitu aja ngelantur sotoynya. Silahkan diambil manfaatnya kalau ada, kalau nggak ada ya abaikan saja.

Semoga Provokasi nggak sekedar jadi angin lalu dalam memperjuangkan permasalahan-permasalahan di Vokasi UI.

I for one believe that if you give people thorough understanding of what confronts them and basic causes that produce it, they’ll create their own program, and when the people create a program, you get action

–Malcolm X

Salam,

Hafizh Nuur

Mahasiswa Sotoy Wanna Be!

[1] Rencana Induk (Master Plan) Kampus Universitas Indonesia Depok 2008, 31

[2] Membangun di Atas Puing Integritas, 2012

[3] “Groundbreaking Vokasi UI: Pembangunan Gedung Vokasi UI Tahap I”, terbit pada 11 Agustus 2010, http://www.bumn.go.id/waskita/berita/73/PEMBANGUNAN.GEDUNG.VOKASI.UI.TAHAP.I , diakses pada 22 April 2016

[4] Wnd, “Skema Pembayaran Apa Saja yang Tersedia untuk Mahasiswa UI?” http://www.ui.ac.id/notice/skema-pembayaran-apa-saja-yang-tersedia-untuk-mahasiswa-ui.html , diakses pada 24 April 2016

[5] Lampiran I Permenristek Dikti No.22/2015

[6] “Pengumuman Lelang Pekerjaan Konstruksi Pembangunan Gedung Program Pendidikan Vokasi UI Tahap II”, http://www.ui.ac.id/notice/pekerjaan-konstruksi-pembangunan-gedung-program-pendidikan-vokasi-ui-tahap-ii.html, diakses pada 22 April 2016

[7] Informasi Lelang Pekerjaan Konstruksi Pembangunan Gedung Program Pendidikan Vokasi UI Tahap II http://lpse.ui.ac.id/eproc/lelang/view/617190;jsessionid=05F30606BFBD5C612A80F10DA730D4E8

[8] Profil Prof. Dr. Ir Muhammad Anis, M.Met, http://staff.ui.ac.id/anis, diakses pada 22 April 2016

[9] “Vokasi”, http://simak.ui.ac.id/vokasi.html#sthash.2HUUH97g.dpuf diakses pada 23 April 2016

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s